Upacara Pakelem Bali

Indonesia terkenal dengan berbagai pulau dengan keragaman budayanya. Negeri Khatulistiwa ini juga diberkati dengan keragaman suku, ras dan agama yang hidup berdampingan dengan damai. Banyak banget suku di Indonesia yang menghuni setiap pulau dari Sabang sampai Merauke. Dalam satu pulau saja, kadang ada lebih dari satu atau dua suku. Nah, kali ini kita bakal membahas soal suku-suku yang mendiami Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Pulau yang sekarang jadi destinasi wisata kelas wahid di Indonesia ini merupakan rumah bagi beberapa suku. Setiap suku ini memiliki adat dan tradisi yang bermacam-macam yang wajib kamu tahu nih. 

Tradisi itu sampai sekarang masih banyak yang dilestarikan meskipun sudah berakulturasi dengan budaya luar atau nilai-nilai modern. Saat kamu berkunjung ke Bali atau Nusa Tenggara, kamu bisa berwisata sambil mendalami tradisi-tradisi yang dilakukan oleh setiap suku yang ada. Hal ini akan membawa pengalaman berharga dan pengalaman yang nggak terlupakan bagi kamu. Nah apa saja sih suku yang ada di Pulau Bali dan Nusa Tenggara? Yuk simak ulasannya seperti dirangkum infoliburan.com berikut ini.

Suku Bali

Sesuai dengan nama pulaunya, Suku Bali merupakan mayoritas penduduk yang mendiami Pulau Dewata. Mereka sering menyebut dirinya sebagai Wong Bali, Anak Bali, atau Krama Bali. Terdapat hampir 3,9 juta penduduk Suku Bali di Indonesia.

Terkenal dengan budayanya yang unik dan beraneka ragam, hampir semua Wong Bali berkecimpung di dunia seni. Seperti tari, pertunjukan, dan seni ukir. Bahkan, untuk kegiatan sehari-hari pun mereka tetap berkarya sebagai seniman. Ada yang melukis, menyanyi, memahat, dan ada juga yang bermain lakon.

>>Baca juga: Apa itu Hari Raya Nyepi dan Sederet Fakta Menarik Tentang Ogoh Ogoh Bali

Foto : Instagram.com/@unxpsdofficial

Selain budaya yang beraneka ragam, Suku Bali terkenal dengan banyaknya upacara-upacara yang dilakukan. Seperti metatah, upacara pernikahan, ngaben, dan masih banyak yang lainnya. Dan setiap upacara pasti diiringi oleh gamelan yang menjadi alat musik utama bagi Suku Bali.

Hampir semua Suku Bali menganut agama Hindu. Hampir 3,2 juta penganut agama Hindu bertempat tinggal di Pulau Bali. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Bali. 

Suku Nyama Selam

Nggak cuma suku Bali, Suku Nyama Selam juga mendiami Pulau Bali. Kata Nyama artinya Saudara, sementara Selam adalah Islam. Jadi Suku Nyama Selam merupakan suku yang menganut agama Islam dan mendiami Pulau Bali. Mereka juga masih menjalankan tradisi budaya Bali lho.

Antara Suku Nyama Selam dan Suku Bali, mereka punya tradisi bersama yang diberi nama Ngejot. Meski berbeda keyakinan, tradisi ini dilakukan untuk saling membantu dan berbagi makanan saat Hari Raya tiba. Suku Nyama berbagi makanan saat Idul Fitri dan Suku Bali berbagi makanan saat Hari Raya Galungan, Kuningan, ataupun Nyepi. 

Tradisi Ngejot biasanya dilanjutkan dengan tradisi Megibung. Di mana tradisi ini merupakan makan bergaya Banjar dengan menikmati makanan bersama-sama dalam satu wadah. 

>>Baca juga: 15 Tarian Bali Terpopuler

Foto  : Instagram.com/@st.balun

Suku Nyama Selam memiliki budaya dan tradisi yang nggak jauh berbeda dari Suku Bali. Bahkan, nama yang disematkan juga ada nama lokalnya. Seperti Kadek, Putu, dan yang lainnya. Bedanya, nama tersebut nanti dipadukan dengan nama Islam. Menarik dan unik bukan?

Suku Bayan

Suku Bayan termasuk dalam bagian Suku Sasak. Namun bedanya, Suku Bayan memiliki keyakinan Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga). Berbeda dengan ajaran Islam murni yaitu Islam Wetu Lima (Islam Waktu Lima).

Foto: detiktravel/Jajaq Bayan

Bahasa keseharian Suku Bayan adalah Bahasa Sasak. Untuk pemerintahan sendiri dibagi dua yaitu kepemimpinan desa dinas dan kepemimpinan desa adat. Dalam kepemimpinan desa dinas mencakup struktur pemerintahan desa. Namun untuk kepemimpinan desa adat dipimpin oleh penghulu. Penghulu tersebut mengurus adat istiadat Suku Bayan.

Suku Dompu

Suku Dompu berdomisili di Nusa Tenggara Barat dan tersebar di empat kecamatan yaitu Huu, Kempo, Kilo, dan Dompu. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Mbojo atau lebih dikenal dengan Bima Nggahi Mbojo. Tapi, nggak sedikit yang menggunakan bahasa Bali, Sasak, maupun Melayu.

Dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, Suku Dompu memandang Ulama sebagai orang yang sangat baik dengan pendidikan tinggi dan kehidupan yang layak. Pekerjaan umum Suku Dompu adalah petani, peternak, pedagang dan nelayan.

Foto : Instagram.com/@m8nusantara

Tradisi yang masih dilestarikan Suku Dompu hingga saat ini adalah upacara Peta Kapanca. Yaitu tradisi yang dilakukan sebelum akad nikah dan di rumah mempelai wanita. Tradisi ini merupakan melumatkan daun pacara atau inai yang berwarna merah ke kuku pengantin wanita. Semua wanita yang datang secara bergantian melumatkan daun pacara tersebut. Tujuannya adalah agar anak-anak dari ibu tersebut segera menyusul.

Suku Sasak

Suku terkenal yang mayoritas tinggal di Lombok adalah Suku Sasak. Suku yang bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa sasak ini mayoritas memeluk agama Islam. Suku Sasak memiliki banyak tradisi unik yang masih dilestarikan hingga saat ini. 

Salah satu tradisinya adalah dimana pengantin perempuan dibawa ke rumah pengantin laki-laki sebelum menikah. Tradisi ini disebut pelarik atau pelarian. Saat melangsungkan tradisi ini, orang tua mempelai wanita tidak tahu bahwa anaknya pergi ke rumah mempelai pria. Namun, pastinya orang tua sudah tahu jika sang putri akan segera menikah. 

Foto : Instagram.com/@erasoekamto

Suku Alor

Suku Alor merupakan penduduk asli Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Dengan daerah yang berupa perbukitan dan pegunungan dengan berbagai kemiringan, mata pencaharian Suku Alor sebagian besar adalah petani. Suku Alor mayoritas beragama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Namun tak jarang juga masyarakatnya masih memeluk kepercayaan animisme dan dinamisme.

Foto : Instagram.com/@leibste

Suku Ngada

Suku Ngada merupakan suku yang mendiami Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Bahasa keseharian yang digunakan suku ini adalah Bahasa Ngada. Sebagian besar masyarakat Suku Ngada bekerja sebagai petani, berladang, dan beternak.

Foto: KOMPAS.com/MARKUS MAKUR

Suku Lamaholot

Suku Lanaholot merupakan suku yang mendiami Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bahasa keseharian Suku Lamaholot adalah Bahasa Lamaholot yang masuk ke dalam golongan rumpun bahasa Ambon Timur. Sebagian besar pekerjaan Suku Lamaholot adalah bercocok tanam yang menggunakan sistem tebang bakar. Tanah yang digunakan saat tebang bakar adalah tanah adat atau yang disebut tanah wungu. Jadi, semua pekerjaan yang berhubungan dengan tanah wungu diatur oleh kepala adat.

Foto : Instagram.com/@seputar_lamaholot

Suku Mbojo

Suku Mbojo merupakan suku awal yang tinggal di Pulau Sumbawa. Secara administratif pulau tersebut terbagi menjadi tiga wilayah. Yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Bahasa yang digunakan oleh Suku Mbojo adalah Bahasa Mbojo.

Foto : Instagram.com/@fahroerizki

Suku Sumbawa

Suku Sumbawa merupakan suku yang mendiami barat dan tengah Pulau Sumbawa yang tinggal di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Suku ini biasa menyebut dirinya Tau Samawa. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Samawa. Mayoritas masyarakat Suku Sumbawa menganut agama Islam.

Foto : Instagram.com/@m8nusantara

Berikut merupakan suku-suku yang ada di Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Selain tradisi yang unik, suku-suku tersebut juga memiliki berbagai bahasa yang berbeda-beda. Sangat melambangkan Indonesia sebagai Bhineka Tunggal Ika nih.

By Weni Arfiyani

A professional writer.