Penjor

Bagi kamu yang tinggal di daerah Bali pasti tidak asing dengan perayaan Galungan. Perayaan ini sangat terkenal hingga di berbagai daerah lainnya. Namun, dibalik itu ada penggunaan simbol unik yang ada di setiap perayaan itu yaitu Penjor.

Jika kamu sedang mengunjungi Bali, mungkin kamu sedikit banyak menemui simbol ini. Simbol ini bukan hanya digunakan untuk perayaan saja, tetapi juga bisa digunakan untuk hiasan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda tentunya. Untuk mengetahui informasi lebih jauh, simak penjelasan dibawah.

foto: Instagram.com/@cultureskyy

Apa Itu Penjor

Sebagai rasa bhakti dan terimakasih, penjor digunakan sebagai swadharma umat Hindu. Pelaksanaan pemasangan ini dilakukan pada hari Anggara Wage wara Dungulan atau sehari sebelum Galungan atau lebih tepatnya pemasangan dilaksanakan setelah menghaturkan banten Penampahan Galungan.

Kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun itu seiring berjalannya waktu, banyak orang yang biasa melaksanakan bukan sehari sebelum Galungan tetapi dilakukan pemasangan pada hari Minggu. Hal tersebut dilaksanakan karena kebanyakan orang beralasan sedang sibuk sehingga tidak bisa membuat penjor atau karena terbatasnya tenaga.

Makna Dan Fungsi Penjor Sebagai Upacara Galungan

Sebagai kebutuhan upacara keagamaan Hindu, penjor dibuat dengan memperhatikan beberapa unsur penting. Selain itu, penjor juga dikatakan sebagai simbol sebuah gunung yang merupakan stana Tuhan dengan berbagai manifestasinya. Untuk itu, beberapa gunung yang ada di Bali dibangun sebuah pura.

Makna dan fungsi penjor Galungan dalam kegiatan upacara berkaitan erat dengan lambang pertiwi bhuana Agung dan simbol gunung yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan. Jadi, kegunaan penjor yang ada di Bali berfungsi sebagai sarana perlengkapan sebuah upacara yang sakral dan dalam pembuatannya juga harus memperhatikan setiap detailnya.

Penjor bisa dibuat dengan kreatifitas dan seni bagi masing-masing orang seperti mendahulukan keindahan ataupun yang lainnya. Tetapi yang tidak boleh diubah dan harus sesuai aturan adalah unsur perlengkapan yang harus ada dan disediakan dengan segar.

Penggunaan unsur perlengkapan dibuat menggunakan unsur yang ada di alam semesta. Dengan begitu, hasil bumi atau hasil dari alam semesta memberikan arti sebagai rasa bakti dan ucapan terimakasih atas segala pemberian dan kemakmuran.

foto: Instagram.com/@cultureskyy

Tata Cara Pada Saat Pelaksanaan Galungan

Sebagai bentuk rasa bhakti dan terimakasih, peletakan dan tata laksana penjor Galungan harus sangat diperhatikan. Untuk itu, berikut merupakan beberapa hal penting yang harus kamu perhatikan saat pemasangan.

  1. Pemasangan Galungan ini sebaiknya dipasang pada saat penampahan karena pada waktu itu umat Hindu mendapat kebaikan yang tertanam pada diri seseorang dan keburukan dihias agar berubah menjadi kebaikan.
  2. Warna kuning dan putih dari janur dan bambu digunakan karena sesuai keyakinan bahwasannya leluhur akan datang ke pemerajan dan penjor segar digunakan dalam bentuk penghormatan secara sekala.
  3. Galungan ini harus disediakan yang segar karena kegiatan tersebut berkaitan dengan upacara Dewa Yadnya.
  4. Pencabutan Galungan ini umumnya dilakukan oleh umat Hindu pada hari Rabu 42 hari setelah hari raya Galungan yang tertera pada kalender Bali yang disebut Buda Kliwon Pahang atau Buda Kliwon Pegat Uwakan.
  5. Setelah pencabutan, perlengkapan seperti sampian, lamak serta perlengkapan upacara Galungan bisa dibakar dan sebagian abunya disimpan pada kelapa gading muda yang di kasturi.
  6. Abu yang ada dalam kelapa gading dilengkapi dengan sarana kwangen dan 11 uang kepeng/ logam yang selanjutnya ditanam di halaman rumah atau di pekarangan atau bisa juga dihanyutkan yang disertai dengan permohonan pakukuh jiwa urip (kedirgayusan).

Jenis Penjor

Jika kamu pada saat mengunjungi Bali melihat penjor selain upacara Galungan, ada yang harus kamu ketahui bahwa jenis penjor dibagi sesuai dengan tempat dan tujuan pembuatannya.

  1. Upacara

Untuk membuat penjor untuk upacara sendiri harus diperhatikan dengan sangat detail tanpa ada pengurangan apapun. Dengan mengikuti tata aturan umat Hindu, ada beberapa aturan seperti ditentukan kain putih, bambu, janur, kelapa, daun-daunan, buah-buahan, pala bungkah, dan tebu.

Unsur-unsur tersebut tentunya memiliki makna yang berbeda-beda dan terhubung langsung dengan Hyang Widhi sang Pencipta beserta dengan ciptaan-Nya.

  1. Hiasan

Berbeda dengan yang satu ini, jika biasanya penjor digunakan untuk kegiatan upacara, ada juga jenis yang digunakan hanya untuk sekedar hiasan saja. Jenis ini sebisa mungkin dibuat dengan keindahan dan hiasan untuk mewarnai sebuah acara, tetapi jenis ini tidak dilengkapi dengan unsur-unsur yang ada pada saat upacara.

Kalau biasanya pemasangan penjor pada saat upacara, berbeda dengan jenis ini yang hanya dipasang pada saat ada acara seperti perlombaan, pesta, maupun pesta seni. Sebagai syarat acara besar, jenis ini biasa digunakan untuk melengkapi sekaligus sebagai unsur kemeriahan.

Arti Penjor dalam Galungan

kelengkapan unsur-unsur yang ada di dalam penjor bukan semata hanya sebagai syarat pelaksanaan upacara, tetapi juga setiap unsur-unsurnya mempunyai arti sendiri.  Berikut merupakan beberapa arti penting yang ada di penjor Galungan.

  1. Bambu

Disini, bambu tidak hanya sebagai pelengkap atau penopang berdiri saja tetapi bambu memiliki arti yang sangat kuat. Bambu harus dibungkus dengan bambu atau kain kasa yang mempunyai simbol kekuatan Dewa Maheswara.

  1. Kain Putih Kuning

Arti dari pemberian kain putih kuning yaitu sebagai simbol kekuatan Dewa Iswara.

  1. Sampian

Arti simbol yang satu ini adalah sebagai kekuatan Dewa Parama Siwa.

  1. Janur

Pemberian janur digunakan di penjor yang mempunyai arti kekuatan Dewa Mahadewa.

  1. Kelapa

Arti dari pemberian kelapa ini yaitu sebagai simbol kekuatan Dewa Rudra.

  1. Kue (jaja uli+gina)

Arti dari simbol yang satu ini adalah sebagai kekuatan Dewa Brahma.

  1. Pala Bungkah, Pala Gantung

Sedangkan pada simbol yang satu ini memiliki arti sebagai kekuatan Dewa Wisnu.

  1. Tebu

Pemberian tebu memiliki arti sebagai kekuatan Dewa Sambu.

  1. Plawa

Sedangkan pemberian plawa sebagai simbol memiliki arti sebagai bentuk kekuatan Dewa Sangkara.

  1. Sanggah Cucuk

Arti dari simbol sanggah cucuk yaitu sebagai kekuatan Dewa Siwa.

  1. Lamak

Pemberian lamak mempunyai arti sebagai simbol Tribhuana.

  1. Banten Upakara

Sedangkan banten upakara memiliki arti sebagai simbol kekuatan Dewa Sadha Siwa.

  1. Klukuh yang berisi pisang, tape dan jaja

Simbol yang satu memiliki arti sebagai kekuatan Dewa Boga.

  1. Ubag-abig

Arti dari ubag-abig adalah sebagai simbol Rare Angon.

  1. Hiasan cili, gegantungan

Pemberian hiasan cili dan gegantungan juga mempunyai simbol Widyadari.

  1. Tamiang

Arti dari pemberian ini adalah sebagai simbol penolak bala atau kejahatan untuk melindungi diri maupun kehidupan sekitar.

Kelengkapan unsur-unsur di atas sebagai pelengkap dan merupakan sebuah syarat pada saat upacara di Bali karena melambangkan simbol yang suci atas dasar atau landasan dari implementasi kitab suci weda yang erat kaitannya dengan etika agama Hindu.

By Weni Arfiyani

Weni merupakan seorang penulis handal dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri media massa. Dengan berlatar belakang pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi UGM, Weni merupakan seorang introvert yang memiliki kecintaan yang besar akan kucing, salah satu kucing weni bernama Keero (mukanya bulat banget) yang hobi goleran di selimut dan Milky yang hobinya lompat-lompat kesana kemari. Saat ini Weni tinggal di Magelang, Jawa Tengah dan tengah menghandle beberapa media online meliputi Brilio.net , Infoliburan.com, dan beberapa client dari agensi tempat ia bekerja.